Minggu, 23 Desember 2012

SURAT KECIL UNTUK IBU


Assalamu’alaikum wr.wb.
Jumpa lagi dengan penulis gaje bin amatiran...
Kali ini saya bawakan cerpen spesial hari ibu...tidak tau juga apakah catatanku ini dapat dikatakan cerpen atau bukan..tapi saya gunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama.
Okey, tidak usah terlalu banyak opening yah, happy read..!!! And hope you like it. Aamiin
GOOOOO......






“Halo...namaku Intan.” mungkin itulah perkenalan singkatku. Karena jika dijabarkan lebih jelas, mungkin akan menjadi panjang dikalikan lebar sama dengan luas. Hmm, hobi menulisku memang kadang-kadang membawa ilmu-ilmu eksak. Mungkin karena aku suka pelajaran menghitung, walau faktanya nilai matematikaku tak bisa selalu sempurna meski aku telah belajar keras dan penuh kesungguhan. Tapi aku merasa beruntung, karena aku dikelilingi oleh orang-orang yang baik selalu  kepadaku. Dan keberuntungan itu selalu saja memaksaku untuk pandai-pandai bersyukur
“Aku Intan. Aku bahagia hidup di khatulistiwa.” inilah salah satu coretan penaku yang tak jelas bertujuan apa yang kerap kali kutulis ketika aku sedang lapar. Maklum saja, sejak aku duduk di bangku putih biru hingga di putih abu-abu aku nyaris tak sempat tidur siang lagi seperti kancil. Kegiatan sekolah membuatku lelah dan lapar. Tak  jarang aku menghiraukan sang guru ketika sedang mengajar meski aku tau bahwa itu bukanlah tindakan yang baik.
Kemudian, sosok yang paling aku puja sepanjang waktu. Dialah idola sejatiku. Allah subhanahu wata’ala. Kekasihku dari jauh. Sang pemilik arsy yang Maha segalanya yang baik-baik. Dan Nabi Muhammad solallahu’alaihi wasallam, rasul utusan Allah yang tiap perkataan, perbuatan, maupun ketentuan beliau adalah teladan. Mengikuti sunahnya merupakan ibadah. Dan salah satu dari sekian banyaknya ibadah ialah menghormati ibu.
Dengan tidak mengurangi rasa hormatku pada sosok ayah, aku katakan “ibuku hebat...” ibu adalah simbol cinta yang nyata, lebih terasa begitu indah. Sebaiknya tidak untuk ucapkan kalimat yang menyakti beliau demi orang baru aku cintai kemarin, sebulan atau setahun yang lalu.
22 Desember selalu menjadi momen yang identik dengan kata-kata cinta, puisi dan syair untuk ibu, yang merupakan salah satu cara yang baik untuk mengungkapkan terima kasih kepada beliau, sosok wanita yang telah mengandung dan melahirkanku. Perjuangan yang amat besar. Bertaruh jiwa dan raga, demi aku, yang sangat ia harapkan kelak menjadi teladan. Ribuan kata terangkai sempurna, membentuk sebuah kalimat yang sarat makna.
“Ibu, engkau begitu bahagia..kasih sayangmu mengalir hingga ke dasar sumsum..tak banyak aku memberi, tapi engkau sudah tak kehitung..berkali-kali aku merengek ini dan itu, tapi engkau, tak sedikitpun engkau meminta..engkau begitu surga, yang tiap lantunan doamu selalu menghadirkan ukiran namaku..”
Itulah kiranya ungkapan cintaku pada sang ibu yang begitu kubanggakan. Dan ternyata, bukan itulah puncak permintaannya. Besar harapannya ialah kebahagiaan selalu menyertaiku. Meski sudah tidak terhitung betapa besarnya pengorbanan yang ibu berikan. Tetapi memang sudah sifat, yang masih belia sepertiku memandang orang tua selalu berpikiran kuno dan ketinggalan jaman. Terhadap ibuku pun, aku pernah berpikir layak itu yang  aku yakin itu bisa  menambah catatan dosaku. Lalu kembali kutatap rona wajahnya. Telah banyak kerut yang muncul disana. Mungkin, itulah yang mewujudkan kesabaran hatinya yang juga penuh perhatian merawatku. Terlalu sering, betapa kecilku dulu membuang kotoran di pangkuan ibu.  Tetapi hebatnya, dia tak pernah marah dengan segala tingkah manjaku. Jika mengingat masa kecilku, ketika aku masih lemah. Dengan keikhlasan ibu ajarkanku untuk berjalan. Senyumannya yang penuh arti nyaris tak pernah aku sadari bahwa saat itulah ibu tengah memberiku semangat untuk bisa.
“Ayo, Nak..! kemari...kesini...sini...sini... Ayo kejar ibu...ayo...” teringat jelas dikala ibu memelukku mesra. Kasihmu ibu seperti lingkaran. Tak berawal dan  tak berakhir. Selalu berputar dan senantiasa meluas. Melingkupi seperti kabut pagi. Menghangatkan seperti mentari siang. Menyelimuti seperti bintang malam. Aku berharap kelak, bisa menjadi pribadi semulia ibu...berbuat baik, berbakti dan taat. Sayangku pada ibu, akan membuat Tuhanku juga sayang kepadaku. Murkaku pada ibu, akan membuat Tuhanku juga murka kepadaku. Karena setiap ridho ibu juga merupakan ridho Tuhanku.
“Ya, Allah.. Tuhanku yang sangat aku kasihi..kekasih-Mu yang kecil ini memohon dengan sangat, berikanlah kesempatan dan kemampuan agar aku dapat membalas segala jasa orang-orang  yang telah begitu baik terhadapku.” itulah sedikitnya yang dapat terucap kali ini.
Ibu tak memerlukan imbalan koin emas sekalipun. Dengan aku merawatnya tulus, itu pun tak akan pernah sanggup membalas kebaikan hatinya. Yang ia inginkan adalah kesuksesan buah hatinya. Pernah kupersembahkan satu keriangan untuknya, “Ibu...aku ranking satu... J” dengan penuh gembira berteriak bahagia menatap wajah ibuku.
“Alhamdulillah...bersyukurlah, Nak. Tetap belajar yang rajin ya...” penuturan beliau sungguh membawa kedamaian.
*****
Kini aku tidak lagi menjadi anak kecil yang kerap bermanja seperti dulu. Sudah saatnya aku berhenti sejenak untuk bermain-main dengan ingatan masa kecilku. Rangkaian kehidupan selalu maju kearah depan. Itulah yang memaksaku untuk berpikir tentang masa yang akan datang, meski aku tahu hanya Tuhanku yang menghendaki akan sampai mana aku berkesempatan menghirup nafas. Itu semua mengajarkanku betapa amalku tak akan pernah cukup untuk membalas jasa-jasa ibu. Perjalanan hidup ini begitu panjang. Kemanapun aku melangkah, akan kutemui tikungan kegagalan dan bundaran kebingungan. Tapi aku punya penolong bernama Tuhan. Dan aku akan sampai di sebuah tempat yang disebut tujuan.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu” (Lukman: 14)
Salah satu dari enam perkara pengantar surga adalah mengetahui akhirat dan mengharapkannya. Tujuan akhir hidup adalah surga, padahal pepatah bijak mengatakan bahwa surga itu berada di telapak kaki ibu. Astagfirullah...berapa kali kata “ah” terucap dalam harianku? Padahal Allah menetapkan kata “ah” saat menolak perintah orang tua adalah dosa. Masihkah aku aku melanjutkan tradisi kemalasanku?
“Tidak” seharusnya ini adalah jawaban yang paling baik dan tepat.
“Ibu, aku yakin disetiap sujudmu yang khusuk, disetiap doamu yang kontinyu, engkau selalu selipkan namaku. Terima kasih untuk semua peluhmu yang tak hanya kasih tetapi juga sayang.”
“Ibu, maafkan setiap kali aku berbuat salah yang kerap membuatmu terluka. Semoga Allah memberikan cahaya ditiap langkah yang hendak dilalui. Memberikan kekuatan dan ketegaran dalam menjalani hidup. Memberikan ampunan disetiap kesalahan yang telah dan akan dilakukan. Dan seberat apapun langkah, semoga akhirnya akan sampai pada impian yang melingkar di puncak kesuksesan yang masih terekam di dalam benak dan pikiran.”
Ibu, aku akan terus ingat sejuta alasanmu untuk tersenyum, menikmati setiap detik waktu dan mengakhiri kelelahan hari ini dengan keikhlasan.
"ibu, pastikan engkau masih bisa tersenyum besok pagi. Aku mencintaimu...karena Allah..."J


 22 Desember 2012





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar